KURIKULUM

BAB I
SIFAT ALAMI KURIKULUM

Pada bab ini, dibahas suatu ikhtisar umum di bidang kurikulum dalam suatu penelitian. Agar lebih jelasnya maka dalam bab ini dibahas : melukiskan konsep kurikulum, menguji beberapa jenis kurikulum, gambaran komponen dan membandingkan kurikulum dan yang terakhir meneliti kurikulum yang tersembunyi.
1.     KONSEP KURIKULUM
Untuk memahami keanekaragaman kurikulum, kita harus terlebih dahulu mengetahui definisi kurikulum tersebut. Dibawah ini disajikan beberapa definisi kurikulum:
Ø    Kurikulum menjadi keseluruhan cakupan pengalaman, kedua-duanya tidak diarahkan, tergantung terhadap kemampuan dari individu, atau menjadi pelatihan dengan sadar melalui lembaga sekolah untuk melengkapi dan menyempurnakan yang unfoldment. (Franklin Bobbitt, 1918, p.43).
Ø    Kurikulum adalah suatu urutan unit isi mengatur sedemikian rupa sehingga pelajaran dari tiap unit mungkin terpenuhi sebagai tindakan tunggal yang menyajikan kemampuan yang diuraikan oleh unit, yang di tetapkan dan dikuasai oleh pelajar. (Robert Gagne, 1967, p.23).
Ø    Kurikulum adalah suatu rencana untuk menyediakan satuan dalam peluang pelajaran untuk para pendidikan. (J. Galen, Dkk, 1981, p.8).
Ø    Kurikulum adalah suatu metode dan pengetahuan agar bisa dikomunikasikan. (Alan Blok, 1998).
Kurikulum menjadi rencana yng dibuat untuk memandu pelajaran di sekolah, pada awalnya diwakili dalam dokumen beberapa tingkatan umum, dan aktualisasi rencana tersebut dilaksanakan didalam kelas, di gunakan oleh pelajar, direkam oleh peninjau, pengalaman itu berlangsung di suatu pelajaran yang juga mempengaruhi apa yang dipelajari.
2.     JENIS KURIKULUM
Jenis Kurikulum menurut Goodlad, menganalisis kurikulum dan menentukan bahwa ada 5 format perencanaan kurikulum :
a.    The Ideological Curriculum
kurikulum yang ideal sebagaimana yang diterangkan oleh sarjana dan guru. Sebuah gagasan kurikulum yang bertujuan untuk mencerminkan pengetahuan.
b.    The Formal Curriculum
Kurikulum yang secara resmi disetujui oleh status dan sekolah lokal. Disetujui oleh Badan Pendidikan Nasional dan sekolah. Persetujuan kurikulum yang menghadirkan minat masyarakat.
c.    The perceived curriculum
kurikulum dari pemikiran. Apakah para guru, orang tua dan orang yang lain berpikir kurikulum itu ada
d.    The operational curriculum
kurikulum yang diamati dari apa yang benar-benar menjadi pengaruh kurikulum terhadap siswa di luar jam setelah jam di dalam kelas itu
e.    The experimential curriculum
apa yang ada di pelajar yang benar-benar mengalami
3.     KOMPONEN KURIKULUM
1.    Curricular Kebijakan adalah mengangkat kumpulan aturan, ukuran-ukuran dan petunjuk bertujuan  untuk mengendalikan implementasi dan pengembangan kurikulum.
2.    Bidang studi adalah suatu bidang studi yang terorganisasi dengan jelas yang dibuat garis demarkasi satuan dalam pelajaran yang mengalami secara khas menawarkan atas suatu periode multiyear.
3.    Program studi adalah suatu program studi total satuan sekolah untuk kelompok pelajaran tertentu, pada umumnya atas suatu periode multiyear dan secara khas mencakup beberapa bidang studi.
4.    Bahan pengajaran adalah suatu subset kedua-duanya suatu program studi dan suatu bidang studi.
5.    Unit studi adalah suatu subset bahan pengajaran, atau suatu satuan pengalaman pelajaran terkait menawarkan sebagian dari suatau bahan pengajaran .
6.     Pengajaran adalah satu set pelajaran yang terkait yang memusatkan pada suatu jumlah relatif kecil sasaran hasil yang relatif kecil.
4.     PENGUASAAN, ORGANIK, DAN PENGAYAAN KURIKULUM
Ada tiga jenis pelajaran pada setiap bidang studi, yaitu:
1.    Penguasaan
sebagai dasar dan tersusun
2.    Pelajaran organik
sebagai dasar, tetapi tidak memerlukan struktur, berkembang secara alami
3.    Pengayaan belajar
belajar yang sederhananya meluas kurikulum, tidak mempertimbangkan dasar
5.     KURIKULUM YANG TERSEMBUNYI
Kurikulum yang tersembunyi adalah kurikulum yang tidak dipelajari atau kurikulum yang terkandung. Kurikulum ini kurikulum yang tidak disengaja yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan dalam nilai-nilai siswa, persepsi dan perilaku.

BAB III
TEORI KURIKULUM

1.     FUNGSI TEORI KURIKULUM
Konsep pendidikan yang diterima di sekolah dihubungkan dengan gagasan untuk teori kurikulum dan kurikulum. Dengan tidak ada teori kurikulum yang menyeluruh pasti akan menimbulkan argumentasi apa teori kurikulum itu. Menurut kebanyakan ahli filsafat ilmu pengetahuan, fungsi teori kurikulum selain untuk menguraikan, menjelaskan, meramalkan juga untuk membantu pendidik membuat aneka pilihan yang lebih diberi alasan. Tercapainya suatu pengalaman dalam bidang pendidikan dengan adanya gol dalam pelaksanaan kurikulum.

2.    KEPEMIMPINAN DALAM TEORI KURIKULUM
Kebutuhan akan kepemimpinan dan perencanaan teoritis dalam kurikulum sekolah adalah suatu langkah umum yang berjalan melalui pendidikan pada suatu level global. Peran kepemimpin didalam meninjau ulang hubungan antara praktek dan teori akan merupakan suatu unsur rumit di masa datang.
3.    PENGGOLONGAN TEORI KURIKULUM
Penggolongan teori kurikulum dibagi dalam empat kategori, berdasarkan pada daerah pemeriksaan mereka, yaitu teori beriorientasi struktur yang cenderung bersifat menjelaskan tujuan, teori berorientasi menilai yang terkait dengan meneliti nilai-nilai dan pengambil alihan pembuat kurikulum dari produk mereka serta cenderung menjadi kritis secara alami, teori berorientasi isi yang terkait dengan menentukan isi dari kurikulum dan cenderung menjadi yang menentukan secara alami dan teori berorientasi memproses yang terkait dengan menguraikan bagaimana kurikulum dikembangkan atau merekomendasikan bagaimana mereka harus dikembangkan dan cenderung menjelaskan secara alami.
1.    Teori berorientasi struktur
Teori ini menguji pertanyaan seperti berikut :
a.    Apakah yang merupakan konsep penting dan bidang kurikulum dan bagaimana mereka ditentukan?
b.    Apakah yang merupakan tingkatan pengambilan keputusan kurikulum dan kekuatan apa yang nampak untuk beroperasi pada masing-masing tingkatan itu semua?
c.    Apa prinsip yang nampak untuk mengurus/memerintah isu pemilihan isi, organisasi dan peruntunan?
2.    Teori berorientasi menilai
Teori ini menguji isu seperti berikut :
a.    Apa cara yang dilakukan pihak sekolah dengan perbedaan kekuatan dalam masyarakat yang lebih besar?
b.    Apa yang merupakan sifat alami dari suatu kesungguhan membebaskan individu dan bagaimana cara pendidikan yang diterima di sekolah menghalangi pembebasan seperti itu?
c.    Bagaimana cara sekolah yang dengan sadar atau tanpa disadari membentuk masa muda dan anak-anak untuk berkaitan dengan peran bermasyarakat yang ditentukan oleh kelas dan ras ?
d.    Sebagai para pemimpin kurikulum menentukan apa yang mendasari pengetahuan. Bagaimana cara keputusan seperti itu mencerminkan penyimpangan kelas mereka dari servis untuk menghalangi pengembangan, masa muda dan anak-anak yang penuh?
3.    Teori berorientasi isi
a.    Curricula Child –Centered, membantah anak menjadi permulaan titik, penentu dan pembentuk dari kurikulum
b.    Curricula Knowledge-Centered, membantah bahwa disiplin pengetahuan harus merupakan penentu yang utama dari apa yang diajarkan
c.    Curricula Society –Centered, setuju bahwa order, pesanan sosial harus merupakan titik awal dan penentu utama dari kurikulum
4.    Teori berorientasi memproses
a.    Suatu sistem untuk menguji proses curricular, akan nampak yang lebih pragmatis bagi kedua-duanya praktisi dan sarjana untuk mempunyai yang tersedia untuk penggunaan mereka adalah suatu alat-alat sistematis untuk menguji proses curricular
b.    Alternatif Pendekatan kurikulum, menurut Smith’s ada 4 pendekatan :
1)    Transmission of Information, kurikulum sebagai badan pengetahuan untuk dipancarkan via suatu silabus
2)    End Product, kurikulum sebagai suatu usaha untuk mencapai akhir produk tertentu
3)    Process, kurikulum sebagai proses
4)    Praxis, kurikulum yang mana sebagai tindakan yang dilakukan

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

KTSP ini juga merupakan kurikulum yang memberikan tekanan pada pengembangan kompetensi siswa. Setiap kurikulum yang diberlakukan di Indonesia memiliki kelebihan-kelebihan masing-masing bergantung kepada situasi dan kondisi saat dimana kurikulum tersebut diberlakukan. juga memiliki beberapa kelebihan jika dibanding dengan kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 2004 atau KBK.
Kelebihan KTSP yaitu antara lain meliputi:
1. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dengan adanya penyeragaman ini, sekolah di kota sama dengan sekolah di daerah pinggiran maupun di daerah pedesaan. Penyeragaman kurikulum ini juga berimplikasi pada beberapa kenyataan bahwa sekolah di daerah pertanian sama dengan sekolah yang daerah pesisir pantai, sekolah di daerah industri sama dengan di wilayah pariwisata. Oleh karenanya, kurikulum tersebut menjadi kurang operasional, sehingga tidak memberikan kompetensi yang cukup bagi peserta didik untuk mengembangkan diri dan keunggulan khas yang ada di daerahnya. Sebagai implikasi dari penyeragaman ini akibatnya para lulusan tidak memiliki daya kompetitif di dunia kerja dan berimplikasi pula terhadap meningkatnya angka pengangguran. Untuk itulah kehadiran KTSP diharapkan dapat memberikan jawaban yang konkrit terhadap mutu dunia pendidikan di Indonesia.
2.   Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
Berdasarkan prinsip-prinsip ini, KTSP sangat relevan dengan konsep desentralisasi pendidikan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS) yang mencakup otonomi sekolah didalamnya. Pemerintah daerah dapat lebih leluasa berimprovisasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Di samping itu, sekolah bersama komite sekolah diberi otonomi menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
3. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa.
Sesuai dengan kebijakan Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Peraturan Mendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), sekolah diwajibkan menyusun kurikulumnya sendiri. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu memungkinkan sekolah menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya.
4.     KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20%. Dengan diberlakukannya KTSP itu nantinya akan dapat mengurangi beban belajar sebanyak 20% karena KTSP tersebut lebih sederhana. Di samping jam pelajaran akan dikurangi antara 100-200 jam per tahun, bahan ajar yang dianggap memberatkan siswa pun akan dikurangi. Meskipun terdapat pengurangan jam pelajaran dan bahan ajar, KTSP tetap memberikan tekanan pada pengembangan kompetensi siswa.
Dapat dikatakan bahwa perberlakuan KTSP ini sebagai upaya perbaikan secara kontinuitif. Sebagai contoh, kurikulum 1994 dapat dinilai sebagai kurikulum yang berat dalam penerapannya. Ketika diberlakukan Kurikulum 1994 banyak sekolah yang terlalu bersemangat ingin meningkatkan kompetensi iptek siswa, sehingga muatan iptek pun dibesarkan. Tetapi yang patut disayangkan adalah SDM yang tersedia belum siap, sehingga hasilnya hanya sekitar 30% siswa yang mampu menerapkan kurikulum tersebut.
5.    KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan. Pola kurikulum baru (KTSP) akan memberi angin segar pada sekolah-sekolah yang menyebut dirinya nasional plus. Sekolah-sekolah swasta yang kini marak bermunculan itu sejak beberapa tahun terakhir telah mengembangkan variasi atas kurikulum yang ditetapkan pemerintah.. Kehadiran KTSP ini bisa jadi merupakan kabar baik bagi sekolah-sekolah plus. Sebagian sekolah-sekolah plus tersebut ada yang khawatir ditegur karena memakai bilingual atau memakai istilah kurikulum yang bermacam-macam seperti yang ada sekarang. Sekarang semua bentuk improvisasi dibebaskan asal tidak keluar panduan yang telah ditetapkan dalam KTSP.
Setiap kurikulum yang diberlakukan di Indonesia di samping memiliki kelebihan-kelebihan juga memiliki kelemahan-kelamahannya. Beberapa kelemahan-kelamahan dalam KTSP maupun penerapannya, di antaranya adalah sebagai berikut:
1.     Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Pola penerapan KTSP atau kurikulum 2006 terbentur pada masih minimnya kualitas guru dan sekolah. Sebagian besar guru belum bisa diharapkan memberikan kontribusi pemikiran dan ide-ide kreatif untuk menjabarkan panduan kurikulum itu (KTSP), baik di atas kertas maupun di depan kelas. Selain disebabkan oleh rendahnya kualifikasi, juga disebabkan pola kurikulum lama yang terlanjur mengekang kreativitas guru.
2.     Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP. Ketersediaan sarana dan prasarana yang lengkap dan representatif merupakan salah satu syarat yang paling urgen bagi pelaksanaan KTSP. Sementara kondisi di lapangan menunjukkan masih banyak satuan pendidikan yang minim alat peraga, laboratorium serta fasilitas penunjang yang menjadi syarat utama pemberlakuan KTSP.
3. Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik konsepnya, penyusunannya maupun prakteknya di lapangan. Masih rendahnya kuantitas guru yang diharapkan mampu memahami dan menguasai KTSP dapat disebabkan karena pelaksanaan sosialisasi masih belum terlaksana secara menyeluruh. Jika tahapan sosialisasi tidak dapat tercapai secara menyeluruh, maka pemberlakuan KTSP secara nasional yang targetnya hendak dicapai paling lambat tahun 2009 tidak memungkinkan untuk dapat dicapai.
4. Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak   berkurang pendapatan para guru. Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) akan menambah persoalan di dunia pendidikan. Selain menghadapi ketidaksiapan sekolah berganti kurikulum, KTSP juga mengancam pendapatan para guru. Hal ini berdampak pada berkurangnya jumlah jam mengajar. Akibatnya, guru terancam tidak memperoleh tunjangan profesi dan fungsional.

There are no comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: